Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday25
mod_vvisit_counterThis month16908
mod_vvisit_counterAll days1102737
 3 guests online
Pencegahan Aspergillosis di Hatchery dengan Clinafarm® Print E-mail
Disusun oleh:
Technical and Product Team of Pharmaceutical and Biosecurity
PT. Novindo Agritech Hutama

1. 1. Pendahuluan

Penyakit Aspergillosis disebut juga Brooder Pneumonia , mycotic pneumonia, atau pneumomycosis. Aspergillosis merupakan penyakit sistem pernapasan yang disebabkan oleh infeksi jamur dari genus Aspergillus. Aspergillus membutuhkan suhu yang hangat, kelembaban, dan material organik untuk berkembang biak. Jamur akan tumbuh dan menghasilkan banyak spora.
Spesies yang paling sering menyerang unggas adalah Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus. Koloni spora A. fumigatus berwarna biru kehijauan. A.fumigatus berkembangbiak dengan pesat di material organik seperti telur dan sekam, pakan, dan peralatan sedangkan A.flavus lebih sering ditemukan pada bahan baku seperti biji- bijian. Spora Aspergillus memiliki diameter 2,5 mikron. Setiap gram bulu ayam mengandung 190.000 spora cendawan.
Masalah utama yang timbul di Hatchery akibat Aspergillosis adalah penurunan daya tetas telur. Penyakit ini timbul akibat telur yang ditetaskan terinfeksi jamur dengan cara masuk melalui pori-pori kerabang telur . Kematian embrio dapat terjadi 16 hari setelah masa inkubasi. Penyakit ini biasanya menyrang anak ayam berumur di bawah 3 minggu.

1.2. Gejala Penyakit

#Newly Hatched Chicks: Gejala Syaraf dan Pernapasan
Pada ayam yang baru ditetaskan (DOC), infeksi Aspergillus biasanya berasal dari lingkungan Hatchery yang terkontaminasi. Ayam berumur 1-3 hari sangat rentan terhadap Aspergillosis karena system pernapasannya belum sempurna. Kematian dapat terjadi pada umur 10 hari. Spora Aspergillus yang terhirup oleh DOC akan masuk dan menyerang sistem pernapasan. Akibatnya, anak ayam menjadi sukar bernapas (gasping). Kelainan patologi anatomi yang dapat ditemukan dari hasil nekropsi adalah perkejuan pada trachea, paru-paru, dan kantong udara. Apabila menyerang sistem syaraf, anak ayam menjadi sukar berjalan. Infeksi bisa terjadi secara subklinis tetapi terjadi penurunan berat badan, peningkatan konversi pakan, dan banyaknya ayam yang diafkir.

#Acute Brooder Pneumonia: Infeksi Akut
Bentuk akut Aspergillosis disebut juga Brooder Pneumonia sering ditemukan di Hatchery dan peternakan Broiler. 90% infeksi Aspergillus berasal dari Hatchery. Outbreak sering terjadi pada anak ayam berumur 10 hari dengan tingkat mortalitas tinggi (>30%). Gejala pernapasan meliputi sukar bernapas, terengah-engah (gasping), dan leher dijulurkan. Penyakit ini sering disertai infeksi sekunder oleh bakteri E.coli dan Salmonella.

#Bentuk Kronik: Umum Pada Ayam Dewasa
Bentuk kronik Aspergillosis biasanya terjadi pada pembibitan ayam dewasa, broiler (4-5 minggu), dan kalkun. Infeksi sering berasal dari litter yang kotor, lembab, dan menggumpal, pakan atau material organik lainnya. Bentuk kronik sering terjadi secara sekunder pada ayam yang lemah atau sedah terserang penyakit lain.
Aspergillosis dapat menyebabkan infeksi sistemik, dermatitis, osteomycosis, opthalmitis, encephalitis, polyserositis, dan arthritis. Kelainan patologi anatomi yang ditemukan adalah nodul-nodul granuloma pada paru-paru dan kantong udara. Selain itu, dapat ditemukan perkejuan pada trachea dan kantong udara.

1.3. Diagnosa
Spora Aspergillus mudah ditemukan di lingkungan, menyebar melalui udara lalu kontak/menempel di material organik. Diagnosa dan monitoring sangat penting dilakukan untuk mencegah Aspergillosis.

#Air Sampling
Pengambilan sampel rutin dari udara merupakan metode yang murah dan mudah untuk mendeteksi keberadaan Aspergillus. Media yang digunakan adalah Saboraud Dextrose Agar (SDA) yang telah diberi antibiotic chloramphenicol untuk mencegah infeksi sekunder bakteri dari udara. Penangkapan kapang dilakukan dengan menempatkan cawan petri di dalam ruangan yang dimaksud selama 10 menit. Cawan petri lalu ditutup dan diinkubasikan selama 36-48 jam pada suhu ruang. Sebelum inkubasi, cawanpetri harus diletakkan posisi terbalik untuk mencegah kondensasi.
Koloni Aspergillus fumigatus berwarna biru kehijauan dengan batas berwarna putih. Koloni Aspergillus yang belum dewasa biasanya berukuran kecil dan berwarna putih.

#Egg Necropsy
Nekropsi telur dilakukan secara rutin di Hatchery untuk memeriksa fertilitas flok, kematian embrio, malposisi atau malformasi. Untuk menentukan derajat kontaminasi Aspergillus, perlu dilakukan nekropsi pada telur yang tidak dapat menetas. Pada hari ke-21, telur yang gagal menetas dibuka dan diperiksa. Apabila ditemukan koloni kecil A.fumigatus berwarna biru kehijauan, infeksi diperkirakan terjadi 3-5 hari yang lalu. Infeksi Aspergillus kemungkinan besar terjadi ketika vaksinasi in ovo. Telur yang terinfeksi biasanya lebih ringan, kantung udara besar, dan banyak spot-spot hitam. Nekropsi telur suspect Aspergillosis harus dilakukan di luar hatchery untuk mencegah kontaminasi kepada telur lain.

#EggShell Sampling
Metode ini jarang dilakukan karena kurang memberikan hasil yang akurat. Pertama, Agar plate dibagi menjadi 4 area. Ke 4 area tersebut masing-masing disentuhkan pada permukaan 4 butir telur yang berasal dari beberapa flok. Bagian dasar cawan petri ditandai per masing-masing flok lalu diinkubasikan pada suhu ruang selama 36-48 jam.

#Surface Sampling
Pengambilan sampel dengan metode swab sering dilakukan untuk mendeteksi aspergillus di ventilasi/exhaust fan di ruang Hatchery. Pengambilan sampel sebaiknya pada kondisi Hatchery yang bersih dari debu untuk memperoleh data yang akurat. Metode ini juga bisa dilakukan untuk menilai kebersihan kandang.

#Pengamatan di Bawah Mikroskop
Pengamatan di bawah mikroskop dapat dilakukan untuk memeriksa adanya hifa berseptat dan konidia dari Aspergillus pada kultur organ, telur, maupun material organik lainnya. Pewarnaan dengan Lactophenol Cotton Blue dilakukan untuk melihat hifa berseptat. Konidia dapat diisolasi dari organ pernapasan ketika dilakukan nekropsi.

1.4. Aspergillus dan Aflatoxin
Aspergillus menghasilkan produk metabolit yang disebut Aflatoxin. Ayam yang memakan pakan terkontaminasi aflatoksin akan mengalami immunosupresi, penurunan produksi telur, dan penurunan daya tetas telur. Produksi Aflatoksin bisa terjadi di feedmill atau di gudang bahan baku pakan. Tempat penyimpanan pakan (feed bin) merupakan media yang baik untuk pertumbuhan aflatoxin karena diletakkan di luar kandang sehingga mudah terpapar suhu (panas, dingin) dan kelembaban (kondensasi).

2.1. Hatchery: Tempat Terbaik untuk Pertumbuhan Aspergillus

#Inkubator, Sistem Ventilasi, Evaporative Cooler: Kondisi yang Ideal untuk Aspergillus
Aspergillus membutuhkan suhu, kelembaban, dan pH tertentu untuk menghasilkan spora. Spora tumbuh dengan optimal pada suhu 37-35° C dan kelembaban yang tinggi. Dengan kata lain, kondisi di dalam inkubator sangat ideal untuk sporulasi Aspergillus.
Pertumbuhan dan Sporulasi Aspergillus membutuhkan kondisi basah dan kering. Kondisi basah diperlukan untuk pertumbuhan sedangkan kondisi kering baik untuk sporulasi. Media kuning telur, debu, bulu ayam, kayu, dan material organik akan membantu menciptakan lingkungan yang ideal untuk Aspergillus.
Sistem ventilasi seperti filter udara dan exhaust fan di Hatchery cenderung sulit untuk dibersihkan. Akibatnya, banyak terdapat debu atau material organic lain yang merupakan sumber kontaminasi Aspergillus.
Evaporative Cooler berfungsi memompakan air dingin dan mengeluarkan udara panas dari dalam kandang melalui pad. Air yang dipompakan akan menghasilkan uap dingin di dalam kandang. Ketika udara panas dikeluarkan, banyak material organik yang terperangkap di dalam pad. Pada malam hari, pendingin tidak digunakan sehingga kondisi pad dan material menjadi kering. Kondisi ini sangat baik untuk sporulasi Aspergillus.

2.2. Kerugian Ekonomi akibat Aspergillosis
Aspergillosis akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar antara lain peningkatan mortalitas embrio, penurunan performa ayam broiler, peningkatan mortalitas saat pertumbuhan broiler, peningkatan biaya pengobatan, dan hilangnya kepercayaan dari customer yang membeli DOC di Hatchery.

 

CLINAFARM®: Solusi terbaik untuk mencegah Aspergillosis

Clinafarm® merupakan desinfektan fungisidal dan antisporulant yang mengandung zat aktif enilconazole. Enilconazole memiliki aktivitas yang tinggi untuk membasmi Aspergillus dan sporanya. Formulasi Clinafarm® terdiri atas formulasi spray dan smoke generator, penggunaannya bisa dikombinasikan tergantung pada keadaan lingkungannya.
Clinafarm® spray sangat cocok digunakan untuk membasmi jamur di surface area seperti dinding, lantai, dan peralatan. Clinafarm® spray merupakan emulsi konsentrat yang mengandung 15% enilconazole (150 g/l). Ketika dicampur dengan air, Clinafarm® spray akan membentuk mikroemulsi yang stabil. Ukuran partikel zat aktif yang mikro semakin meningkatkan aktifitas fungisidal. Komposisi zat lain di dalam Clinafarm diformulasi secara mutakhir untuk meningkatkan kemampuan kontak dengan permukaan, jamur, dan spora sedangkan formulasi emulsi oil-based berguna untuk menciptakan efek fungisidal jangka panjang.
Clinafarm® Smoke merupakan enilconazole generator asap siap pakai, dapat langsung digunakan untuk fumigasi pada ruangan tertutup. Incubator,laboratorium, silo, truk, dan sistem ventilasi. Clinafarm®smoke mengandung 5 gram enilconazole. Smoke Generator tahan disimpan di ruang sejuk dan kering hingga 5 tahun. Asap yang dihasilkan tidak bersifat toksik untuk manusia dan hewan.

 

CLINAFARM®: lebih unggul dibandingkan desinfektan lain

Clinafarm® merupakan desinfektan spektrum luas yang bersifat fungisidal dan antisporulant. Desinfektan ini sangat cocok untuk mengatasi Aspergillosis. Zat aktif enilconazole yang terkandung di dalamnya memiliki banyak kelebihan dibanding desinfektan jenis lain. Enilconazole memblokade sintesa lanosterol menjadi ergosterol yang merupakan bahan essensial penyusun dinding sel fungi. Enilconazole juga tidak bersifat toksik untuk manusia maupun hewan, tidak menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan.

               
Konidia Aspergillus normal                    Konidia Aspergillus setelah pemberian Clinafarm®

Kelebihan lain dari Clinafarm® adalah aktifitas penguapan yang dihasilkannya juga memiliki aktifitas fungisidal dan antisporulan. Berarti, tanpa adanya kontak langsung dengan permukaan, uap dari Clinafarm® juga bisa membasmi Aspergillus dan sporanya. Hal ini telah dibuktikan dengan pengujian laboratoris.

Desinfektan lain Kelemahan
Formaldehida Tidak efektif untuk spora, bersifat toksik, karsinogenik, teratogenik
Ammonium Quartener Tidak stabil terhadap aspergillus, tidak efektif untuk spora
Iodine-Based Kurang efektif, efek samping terhadap daya tetas (konsentrasi tinggi)
Chlorine-Based Tidak efektif untuk jamur, tidak stabil, sangat korosif, tidak ada efek residual, tidak bisa diaplikasikan dengan fogging
Fenol Tidak kompatibel dengan detergen, toksik, tidak bisa diaplikasikan dengan fogging
Gultaraldehida Tidak efektif untuk aspergillus dan spora, toksik, tidak bisa diaplikasikan dengan fogging
Hidrogen Peroksida Sangat korosif, tidak bisa diaplikasikan dengan fogging
Peracetic acid-Based tidak bisa diaplikasikan dengan fogging
Ozone Sangat korosif, tidak bisa diaplikasikan dengan fogging

Pertama, disiapkan 2 buah cawan petri berisi media agar. Pada media 1, Kertas saring yang telah diberi enilconazole direkatkan di tutup cawan petri bagian dalam sedangkan pada media 2, kertas saring yang mengandung enilconazole langsung diletakkan di plat agar. Kedua media diinokulasi dengan Aspergillus. Setelah proses inkubasi, bagian tengah dari kedua media sama-sama tidak ditumbuhi Aspergillus. Padahal media 1 tidak dilakukan kontak langsung antara enilconazole dan Aspergillus. Berarti Aspergillus dihambat pertumbuhannya oleh fase penguapan yang dihasilkan oleh enilconazole.
Enilconazole merupakan fungisidal yang ribuan kali lebih kuat daripada Thiabendazole. Enilconazole juga efektif membasmi dermatofita, khamir, dan beberapa bakteri gram positif. Pertumbuhan fungi dihambat pada konsentrasi 1-10 mg/l. Berikut ini adalah hasil riset yang menunjukkan kelebihan enilconazole dibandingkan thiabendazole.

 

APLIKASI CLINAFARM® : mudah dan praktis

Clinafarm® spray digunakan untuk area terbuka seperti di kandang, hatchery, ruang mesin atau mencuci peralatan kandang. Dapat juga untuk desinfeksi kolam renang, sauna, dan gedung olah raga. Desinfektan ini dapat diaplikasikan dengan semprot, nebulasi, dan fogging, tidak toksik untuk manusia maupun hewan, tidak korosif, dapat dicampur dengan detergen maupun desinfektan, dan shel life 5 tahun pada kondisi normal.

    

Dosis dan cara pemakaian: - Spray/semprot: Untuk luas 7.500 m2, cukup semprotkan 1 liter Clinafarm yang telah ditambahkan 99 liter air
- Cold fogging/Pengkabutan: Untuk volume ruangan 30.000 m2 , cukup dengan 1 liter Clinafarm yang telah ditambahkan 99 liter air
Clinafarm® smok digunakan untuk area yang tertutup seperti pada feed silo, incubator, truk, container, atau pada area tertutup dengan sistem ventilasi yang baik. Dapat juga untuk mendesinfeksi ruangan khusus di rumah sakit (laboratorium, dsb), industri makanan dan minuman.

    

Dosis dan Cara Pemakaian - 1 lt Clinafarm Smoke generator digunakan untuk ruangan seluas 50m3
- Taruh di tempat yang tahan api dan nyalakan sumbu Clinafarm smoke. Asap putih akan keluar selama 20-40 detik dari generator
- Biarkan smoke generator selama 5 menit agar dingin
- Biarkan asap mengasapi ruangan minimum 30 menit dan sebaiknya 12 jam (overnight)

 

CLINAFARM REFERENCE PROGRAMME

Breeding Farm – Lakukan penyemprotan di litter, dinding, dan lantai kandang, serta tempat penetasan 2x per bulan. Sedangkan untuk tempat telur, penyemprotan dilakukan 2x per bulan. Dosis yang disarankan adalah 1 liter Clinafarm dicampurkan dengan 50 liter air. Campuran tersebut digunakan untuk luas area 75 m2.
Hatchery- Untuk program pemakaian di hatchery bisa digunakan dosis 1 lt Clinafarm spray yang telah ditambahkan 99 liter air. Campuran tersebut digunakan untuk luas area 75 m2 atau 300 m2.
Pada ruang pull chick, keranjang kosong, atau peralatan dapat dilakukan penyemprotan beberapa kali setelah dipakai. Pada ruang inkubasi dan ruang penetasan dapat dilakukan penyemprotan atau pengkabutan 2 kali seminggu.
Pada ruang incubator sebaiknya dilakukan penyemprotan beberapa kali sesudah telur masuk.
Pada ruang tempat penetasan (hatcher), lakukan penyemprotan/pengkabutan beberapa kali sesudah DOC dikeluarkan atau gunakan 1 kaleng Clinafarm smoke per hatcher 12 jam sebelum pull chick.
Pada Kendaraan Pengangkutan Telur sebaiknya dilakukan penyemprotan/pengkabutan pada telur sebelum diberangkatkan atau 1 kaleng Clinafarm smoke per 50 m2 sebelum truk tersebut ditutup.

Pada Kendaraan Pengangkutan Telur sebaiknya dilakukan penyemprotan/pengkabutan pada telur sebelum diberangkatkan atau 1 kaleng Clinafarm smoke per 50 m2 sebelum truk tersebut ditutup.

 

References

1. Janssen Animal Health. 2006. Aspergillus Prevention in Hatcheries with Clinafarm. Belgium.

2. Polana A dan Fadilah R. 2011. Mengatasi 71 Penyakit Pada Ayam. Agromedia:Jakarta.

Download versi PDF artikel ini

Back to articles

 
 
RocketTheme Joomla Templates